Mendidik Anak Dengan Cinta

IMG_0363

Pagi itu karena keletihan Arie terlambat bangun, dengan nada keras ibunya memanggil: ”Arie…! Bangun! Sudah jam berapa ini?! Bukan kau saja yang ibu urusi”. Arie pun tersentak bangun. Arie turun ke lantai bawah dan disambut ayahnya dengan sorot mata tajam serta membentak: ”Cepat mandi! Apalagi yang kau tunggu!. Setelah sarapan Arie berangkat ke sekolah. Arie datang terlambat dan gurunya berkata:” Dasar anak pemalas! Sudah jam berapa ini, memangnya ini sekolahmu, sesuka hatimu saja kau datang!”.Waktupun berlalu, dan ketika belajar matematika Arie tak dapat menyelesaikan soal latihan di depan kelas, guru matematikanya berkata: ”Bodoh kali kau, begitu aja nggak bisa. Apa makanan mu?!”.

 Cerita di atas hanya cerita belaka, namun sering kali terjadi dalam kehidupan anak, baik di rumah maupun lingkungan sekolah yang memformat proses pendidikan. Tanpa disadari, apa akibat yang terjadi pada perkembangan psikologis serta emosional anak jika anak terus menerus mendapat perlakuan seperti ini? Para pendidik sudah pasti mengerti apa yang akan terjadi pada diri anak tersebut, jika anak tersebut mendapat perlakuan, cercaan, hujatan seperti itu. Inikah yang namanya pendidikan?

Makna Mendidik

Mendidik sering dimaknai sama dengan mengajar. Sebenarnya, mendidik lebih luas maknanya dibandingkan dengan mengajar. Mendidik dapat dilakukan dengan cara mengajar. Memang, mendidik dan mengajar sering dimaknai secara tumpang tindih. Mendidik anak dapat dilakukan oleh orangtua di rumah, juga oleh guru di sekolah. Orangtua di rumah, tanpa disadari juga melakukan proses pendidikan. Hal ini kurang disadari oleh sebagian besar orangtua. Justru sebagian besar pembentukan mental anak dibentuk oleh pendidikan yang berlangsung di rumah. Ketika anak berada di rumah, orangtualah yang menjadi gurunya. Suatu hal yang perlu diingat, tingkah laku ‘guru’ akan menjadi faktor yang penting dalam proses pendidikan, karena tingkah laku ‘guru’ akan menjadi suri teladan bagi murid-muridnya.

 Prof. Suyanto, Ph.D menyatakan bahwa pendidikan memiliki tiga proses yang saling kait mengait dan saling  pengaruh mempengaruhi satu dengan yang lain. Pertama, sebagai proses pembentukan kebiasaan (habit formation). Kedua, sebagai proses pengajaran dan pembelajaran (teaching and learning process), dan ketiga adalah sebagai proses keteladanan yang dilakukan oleh para guru (role model).

Tiga Prinsip Pendidikan

Tiga syarat penting dalam proses mendidik dan mengajar yang pertama adalah cinta, kedua adalah kepercayaan, dan ketiga adalah kewibawaan. Ketiga syarat ini saling mempengaruhi dan saling kait mengait. Cinta akan menimbulkan kepercayaan. Seorang Ibu menyusui anaknya dengan rasa cinta. Seorang Bapak menimang-nimang anaknya dengan rasa cinta. Ketika sang anak ditimang-timang atau bahkan di angkat-angkat ke atas. Mengapa sang anak tidak takut jatuh? Karena sang anak memiliki kepercayaan kepada sang Bapak. Sang anak percaya bahwa Bapaknya tidak akan menjatuhkannya. Seterusnya, kepercayaan sang anak inilah yang menghadirkan kewibawaan bagi sang Bapak. Kewibawaan adalah kemampuan untuk dapat mempengaruhi orang lain. Kewibawaan akan lahir jika ada kepercayaan. Anak akan menurut atau mengikuti perintah dan arahan dari Bapak karena adanya kepercayaan kepada sang Bapak, atau dalam hal ini guru akan diikuti perintahnya oleh peserta didik jika peserta didik menaruh kepercayaan kepada gurunya. Itulah tiga syarat terjadinya proses pendidikan dan pengajaran.

Seorang siswa Sekolah Dasar di negara Chad, ketika ditanya tentang guru yang bagaimana yang mereka inginkan, ia menyatakan  “Guru yang baik akan memperlakukan siswanya seperti anaknya sendiri. Dia akan menjawab semua pertanyaan meskipun pertanyaan bodoh (Fatmoumata [11 tahun] dari Chad).  Seorang sastrawan kondang dari Madura, D. Zawawi Imron, menyatakan bahwa “Guru yang baik ialah yang menganggap semua muridnya sebagai anak-anaknya sendiri, yang setiap hari akan mendapat curahan kasih sayangnya. Guru yang baik ialah yang memberikan masa depan cemerlang dengan membekali anak didiknya dengan visi yang tajam dan ilmu yang menjanjikan. Guru yang demikian adalah guru yang berjasa meskipun tanpa diberi tanda jasa. Guru yang demikian substansinya adalah pahlawan”. Lebih dari itu, cinta kasih guru kepada semua siswanya tanpa pilih kasih haruslah dilandari dengan kejujuran. Bapak pendiri Amerika Serikat menyatakan “Honesty is the first chapter in the book of wisdom.  Kejujuran adalah bab pertama dalam buku kebijaksanaan (Thomas Jefferson).

Mengapa Harus Sayang

Berbuat sayang kepada anak (anak didik), sama sekali bukan berarti harus menuruti semua permintaan anak. Orangtua terlebih dahulu memahami pendapat dan keinginan anak yang sering konyol serta tidak masuk akal, kemudian dengan penuh kasih sayang mengarahkannya untuk mengerti batas antara boleh dan tidak.

Perkataan kasar dan pemberian hukuman adalah hal yang tidak diingini semua anak (bahkan orang dewasa), walaupun menurut orangtua semua itu demi kebaikan anaknya semata. Yang dirasakan anak hanyalah bahwa kemarahan itu menjadi bukti ketidaksenangan orangtua kepadanya. Maka, satu kunci yang paling ampuh dalam mendidik anak adalah dengan berlaku lemah lembut penuh cinta kasih walaupun dalam keadaan marah sekalipun.

Menurut Ery Soekresno, Psi, cinta (kasih sayang) memberikan rasa aman dan nyaman sehingga anak-anak akan mengembangkan rasa percaya diri pada lingkungannya. Cinta terbukti dapat mencerdaskan anak. Anak yang dicintai orang tuanya akan lebih cerdas dibanding mereka yang hidup dalam lingkungan kurang kasih sayang. Pada akhirnya dia anak menjadi anak yang penuh percaya diri,” ujar Ery.

Psikolog ini melanjutkan bahwa anak yang dididik dengan penuh cinta tidak akan menjadi keras, liar dan kejam atau memiliki perilaku bermasalah bahkan sampai menjadi korban narkoba. “Cinta juga memberi kesempatan pada anak untuk memperbaiki kesalahannya,” ujar psikolog dari Sumayyah Training & Consultant ini.

Bersikap Empati

Dengan marah atau membentak, memang dapat segera menyelesaikan sesuatu masalah namun pragmatis sifatnya. Dengan marah, Arie segera bangun dan mandi. Namun, kemarahan dapat menyisakan rasa anti pati pada diri anak, apalagi hujatan dan kecaman. Hujatan dan kecaman tidak akan membawa perubahan berarti pada diri anak, namun anti pati dan ketidakpercayaan.

Untuk itu, alangkah indahnya jika orangtua maupun guru dapat bersikap empati terhadap anak.                Sikap empati, mau menghayati perasaan anak, hendaknya diberikan orang tua maupun guru dalam mendidik anak. Perasaan merupakan indikasi seseorang butuh atau tidak butuh sesuatu. Kalau anak terlihat sedih, artinya dia membutuhkan kedekatan, kehangatan. Kalau perasaannya bahagia, berarti kebutuhannya sudah terpenuhi. Kalau tampak bingung, mungkin pilihan di hadapannya tidak ada yang sesuai. “Jadi yang menjadi acuan dalam pendidikan atau pengasuhan yang baik adalah perasaan si anak, bukan tuntutan lingkungan,” demikian ucap psikolog Dra. Pamugari Widyastuti.

Jangan Cinta Bersyarat

Menurut psikolog Dra. Pamugari Widyastuti , cinta bersyarat adalah sikap orang tua yang baru memberikan kasih sayangnya kalau si anak menjadi anak baik, berprestasi, atau memberi kebanggaan pada keluarga, dan sebagainya. Jika anaknya baik, orangtua akan berkata: “ini baru anak mama”,  atau kata-kata lain yang menunjukkan rasa cinta dan sayang. Namun, kalau tidak, orang tua hanya akan memberikan kasih sayangnya yang sudah “didiskon“; bisa-bisa si anak malah kena “likuidasi” alias tak disayangi lagi. “Hal itu memang tidak terungkap secara eksplisit dari orang tua”.

Suatu hal yang kurang adil dalam mendidik anak adalah ketika anak dalam kondisi benar, anak jarang diberi pujian (afirmasi), namun ketika anak dalam kondisi salah, anak habis-habisan di cerca dan di marah seolah-olah anak tak pernah berbuat benar.

Harga Ciuman Seorang Ibu

Bernie Siegel, baru-baru ini melakukan penelitian tentang ‘khasiat ciuman’ seorang ibu bagi anak-anaknya maupun seorang istri bagi suaminya. Ciuman sang ibu merupakan wujud cinta dan kasih  sayang yang tulus dari seorang ibu. Hasilnya cukup menakjubkan.

Seorang anak yang diberangkatkan ke sekolah oleh sang ibu dengan kecupan sayang ternyata memberi dampak yang luar biasa dalam prestasi sekolahnya, meredam kemarahan anak untuk tidak berkelahi di sekolah.

Suami yang pergi ke kantor bekerja dengan ciuman sang istri lebih memiliki kemungkinan kecil untuk mengalami kecelakaan di perjalanan dibanding mereka yang berangkat kerja tanpa kecupan mesra sang istri. Kualitas dan antusias bekerjapun mengalami perbedaan yang cukup signifikan. Disamping itu, kecupan tulus sang istri mampu meminimalkan kemungkinan hadirnya WIL (wanita idaman lain).

Pengaruh Perlakuan pada Anak

Di bagian akhir tulisan ini, mari kita renungkan ungkapan Dorothy Law Nolte dalam buku The Learning Revolution; “Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah. Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian. Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri. Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan. Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar  kedermawanan. Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupannya. Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikirannya.

Semoga Bermanfaat.

 DAFTAR PUSTAKA

  1. Dryden G; & Jeannette Vos, (2002). Revolusi Cara Belajar. Bandung: Penerbit Kaifa.
  2. Istadi, Irawati, (2003). Mendidik Dengan Cinta. Jakarta: Pustaka Inti.
  3. Marpaung, Parlindungan, (2006). Setengah Isi Setengah Kosong. Jakarta: MQS Publishing.
  4. Internet Resource

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s