Mengenal Berbagai Macam Potensi Kecerdasan Anak

siswa15Setiap orang menginginkan dirinya tergolong manusia cerdas, punya keturunan dengan kriteria cerdas. Banyak orang tua merasa kecewa ketika nilai ulangan harian atau rapor anaknya biasa-biasa saja dengan beranggapan bahwa anaknya tidak cerdas. Mengapa? Karena orang tua hanya memahami bahwa anak cerdas adalah anak yang dapat memperoleh nilai yang tinggi serta juara kelas. Padahal nilai ulangan harian atau rapor hanya memuat kemampuan akademis yang menilai aspek kognitif semata dari sebuah proses pembelajaran. Masih ada beberapa aspek lain yang tidak dinilai dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, janganlah langsung kecewa ketika melihat nilai anaknya rendah, karena masih ada kecerdasan lain yang dimiliki oleh seorang anak yang perlu dikembangkan.

Berbicara tentang kecerdasan, setiap orang pasti langsung menghubungkan dengan IQ (Intelligence Quotient). Jika hasil test IQ anak tinggi, maka cerdaslah anak tersebut, namun jika rendah skor hasil test IQ seseorang maka IQ jongkoklah anak tersebut.

Secara umum yang diuji dalam test IQ hanyalah dua jenis kecerdasan, yaitu kecerdasan linguistik/bahasa dan kecerdasan logika-matematika. Saat ini berdasarkan karya Howard Gardner       “ Multiple Intelligence”, kita mengetahui bahwa manusia memiliki banyak kecerdasan. Karena test IQ hanya menguji dua jenis kecerdasan saja, maka kuranglah bijaksana jika kita memvonis taraf kecerdasan anak dan mendikte jalan hidupnya. Mengapa? Karena test IQ sebenarnya hanya  menguji sebagian kecil dari aspek kecerdasan manusia.

Pengertian Kecerdasan

            Pada umumnya, kata “cerdas” atau “kecerdasan” sering diartikan oleh sebagian besar orang sebagai berikut: mampu cepat bertindak, dapat mengatasi berbagai macam masalah, menjadi tempat bertanya atau konsultasi, mampu membaca dengan kecepatan tinggi, lulus dengan IP yang tinggi, pintar cari uang, sukses dalam karier (misalnya menjadi manajer, dll), mampu sekolah sampai S2 atau bahkan S3, saat sekolah nilai ujiannya selalu mendapat nilai 10, menjadi juara kelas, pintar melihat peluang, IQ yang di atas rata-rata, mengambil jurusan ilmu eksakta (misalnya fisika atau matematika), dapat menghitung dengan cepat, mampu berbicara dalam beberapa bahasa, rajin dan ulet, dapat menciptakan peluang, bisa masuk ke perguruan tinggi favorit, selalu mendapat beasiswa, pintar berbicara dan meyakinkan orang lain, pintar memimpin orang lain, dapat mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus, mampu menyelesaikan masalah, Ahli dalam bidang tertentu.

Pengertian tersebut begitu luas, namun bila diteliti ada kesamaan makna yang dapat merangkum semua makna yang berkembang tersebut.

Definisi Kecerdasan

Kamus Webster mendefenisikan kecerdasan (intelligence) sebagai:

  1. Kemampuan untuk mempelajari atau mengerti dari pengalaman; kemampuan untuk mendapatkan dan mempertahankan pengetahuan; kemampuan mental.
  2. Kemampuan untuk memberikan respons secara cepat dan berhasil pada suatu situasi yang baru; kemampuan untuk menggunakan nalar dalam memecahkan masalah.

Kamus Oxford mendefenisikan kecerdasan (intelligence) sebagai:

            Kemampuan untuk belajar, mengerti dan bernalar; kemampuan mental.

 Kamus pada Encyclopedia Encarta  mendefinisikan kecerdasan (intelligence) sebagai:

Kemampuan untuk mempelajari fakta-fakta dan keahlian-keahlian serta mampu menerapkan apa yang telah dipelajari, khususnya bila kemampuan ini telah berhasil dikembangkan.

Menurut pakar psikologi dalam Journal of  Educational Psychology, kecerdasan adalah:

1.      kapasitas untuk belajar dari pengalaman

2.      kemampuan untuk beradaptasi

 Dua definisi di atas merupakan hal yang sangat penting. Kapasitas untuk belajar dari pengalaman berarti orang yang cerdas juga dapat membuat kesalahan. Bahkan orang yang cerdas sesungguhnya bukanlah orang yang tidak pernah membuat kesalahan. Tetapi, orang yang cerdas adalah orang yang membuat kesalahan, belajar dari kesalahan tersebut, dan tidak membuat kesalahan yang sama lagi.

Kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan berarti untuk menjadi cerdas tidaklah semata-mata bergantung pada nilai atau hasil suatu tes atau ujian di sekolah. Di sini menjadi cerdas meliputi kemampuan untuk menangani suatu pekerjaan, bagaimana berhubungan dengan orang lain, dan bagaimana mengatur hidup secara umum.

Macam Kecerdasan menurut Howard Gardner :

1. Kecerdasan Linguistik

            Kecerdasan Linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Kecerdasan ini mencakup kemampuan untuk menangani struktur bahasa (sintaksis), suara (fonologi), dan arti (semantik). Orang dengan kecerdasan linguistik menyukai puisi, rima, permainan kata , mempunyai perbendaharaan kata yang luas, dan pintar mengekspresikan diri mereka melalui bahasa lisan maupun tulisan .

 Orang dengan kecerdasan linguistik yang berkembang baik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

Mampu mendengar dan memberikan respons pada kata-kata yang diucapkan dalam suatu komunikasi verbal; mampu menirukan suara, mempelajari bahasa, serta mampu membaca dan menulis karya orang lain; mampu belajar melalui pendengaran, bahan bacaan, tulisan, dan melalui diskusi atau debat; mampu mendengar dengan efektif, serta mengerti dan mengingat apa yang telah di dengar; mampu membaca dan mengerti apa yang dibaca; mampu berbicara dan menulis dengan efektif; mampu mempelajari bahasa asing; mampu meningkatkan kemampuan bahasa yang digunakan untuk komunikasi sehari-hari; tertarik pada karya jurnalisme, berdebat, berbicara, menulis, atau menyampaikan suatu cerita atau melakukan perbaikan pada karya tulis; memiliki kemampuan menceritakan dan menikmati humor.

 2. Kecerdasan Logika-Matematika

            Kecerdasan Logika-Matematika adalah kemampuan untuk memecahkan masalah, mampu memikirkan dan menyusun solusi dengan urutan yang logis. Orang dengan kecerdasan Logika-Matematika suka dengan angka, logika, dan keteraturan. Mereka dapat mengerti pola dan hubungan serta mampu melakukan proses berpikir deduktif dan induktif.

Orang dengan kecerdasan logika-matematika yang berkembang baik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Mampu mengamati objek yang ada dilingkungan dan mengerti fungsi objek tersebut; mengenal dan mengerti konsep jumlah, waktu, dan prinsip sebab-akibat; mempunyai kemampuan menguji hipotesis yang ada; menggunakan simbol-simbol abstrak untuk menjelaskan konsep dan objek yang konkrit; mampu dan menunjukkan kemampuan dalam pemecahan masalah yang menuntut pemikiran yang logis; mampu mengamati dan mengenali pola serta hubungan; menikmati pelajaran yang  berhubungan dengan operasi yang rumit seperti kalkulus, pemrograman komputer, atau metode riset; menggunakan teknologi untuk memecahkan persoalan matematika; berpikir secara matematis dengan mengumpulkan bukti-bukti, membuat hipotesis, merumuskan, dan membangun argumentasi yang kuat; tertarik dengan karier di bidang akuntansi, teknologi, hukum, mesin dan teknik.

3. Kecerdasan Interpersonal

            Kecerdasan Interpersonal adalah kemampuan untuk mengamati dan mengerti maksud, motivasi dan perasaan orang lain. Kecerdasan ini juga melibatkan kepekaan pada ekspresi wajah, suara, dan gerakan tubuh dari orang lain dan mampu memberikan respons secara efektif dalam berkomunikasi. Orang dengan kecerdasan interpersonal sangat menikmati kegiatan kelompok, suka dengan kegiatan yang mengharuskan  mereka melakukan pengamatan interaksi manusia, melakukan wawancara dengan orang dewasa, menetapkan aturan kelas, menentukan dan membagi tugas dan tanggung jawab, mengikuti permainan yang melibatkan upaya menyelesaikan suatu konflik.

Orang dengan kecerdasan interpersonal yang berkembang baik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Membentuk dan mempertahankan suatu hubungan sosial; mampu berinteraksi dengan orang lain; mengenali dan menggunakan berbagai cara untuk berhubungan dengan orang lain; mampu mempengaruhi pendapat atau tindakan orang lain; turut serta dalam upaya bersama dan mengambil berbagai peran yang sesuai, mulai dari menjadi seorang pengikut hingga menjadi seorang pemimpin; mengamati perasaan, pikiran, motivasi, perilaku dan gaya hidup orang lain; mengerti dan berkomunikasi dengan efektif  baik dalam bentuk verbal maupun nonverbal; mengembangkan keahlian untuk menjadi penengah suatu konflik, mampu bekerja sama dengan orang yang mempunyai latar belakang  yang beragam; tertarik menekuni bidang yang berorientasi interpersonal seperti menjadi pengajar, konseling, manajemen, atau politik; peka terhadap perasaan, motivasi, dan keadaan mental seseorang.

4. Kecerdasan Intrapersonal

            Kecerdasan Intrapersonal adalah kecerdasan yang berhubungan dengan kesadaran dan pengetahuan tentang diri sendiri. Kecerdasan ini melibatkan kemampuan untuk secara akurat dan realistis menciptakan gambaran mengenai diri sendiri (kekuatan dan kelemahan); kesadaran akan mood atau kondisi emosi dan mental diri sendiri, kesadaran akan tujuan, motivasi, keinginan, proses berpikir dan kemampuan untuk melakukan disiplin diri, mengerti diri sendiri dan harga diri. Orang dengan kecerdasan intrapersonal suka menggunakan jurnal atau diary untuk mencatat hal-hal penting yang ada dalam pikiran mereka dan membantu mereka dalam proses pembelajaran. Mereka kadang terlihat malu, dan agak introvert atau tertutup.

Orang dengan kecerdasan intrapersonal yang berkembang baik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Mampu menyadari dan mengerti arti emosi diri sendiri dan emosi orang lain; mampu mengungkapkan dan menyalurkan perasaan dan pikiran; mengembangkan konsep diri yang baik dan benar; termotivasi untuk menentukan dan mengejar suatu tujuan hidup; menetapkan dan hidup dengan sistem nilai yang sesuai dengan etika; mampu bekerja secara mandiri; sangat tertarik dengan pertanyaan arti hidup, tujuan hidup, dan relevansinya dengan keadaan saat ini; mampu mengembangkan kemampuan belajar yang berkelanjutan dan meningkatkan diri; tertarik menerjuni karier sebagai pelatih, konselor, filsuf, psikolog, atau memilih jalur spiritual; mampu menyelami dan mengerti kerumitan suatu pribadi dan kondisi manusia pada umumnya.

5. Kecerdasan Musikal

            Kecerdasan Musikal adalah kemampuan untuk menikmati, mengamati, membedakan, mengarang, membentuk dan mengekspresikan bentuk-bentuk musik. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap ritme,  melodi dan timbre dari musik yang didengar. Orang dengan kecerdasan musikal suka bernyanyi, menyukai ritme musik, puisi, jingle, dan membuat suara-suara yang tidak berarti namun sangat mereka sukai. Mereka dapat belajar dengan lebih maksimal bila musik menemani proses pembelajaran mereka. Mereka dapat membuat lagu dan memasukkan informasi yang ingin mereka pelajari ke dalam lagu tersebut.

Orang dengan kecerdasan musikal yang berkembang baik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Mendengarkan dan memberikan respons dengan minat yang besar terhadap berbagai jenis suara; menikmati dan mencari kesempatan untuk bisa mendengar musik atau suara alam; mengerti nuansa dan emosi yang terkandung dalam suatu musik; mengumpulkan musik baik dalam bentuk rekaman maupun dalam bentuk tulisan/cetak; mampu bernyanyi atau bermain alat musik; menggunakan kosakata dan notasi musik; senang melakukan improvisasi dan bermain dengan suara; mampu menciptakan komposisi musik; mampu melakukan analisis dan kritik terhadap suatu musik; tertarik menerjuni karier sebagai penyanyi, pemain musik, produsen, guru musik, konduktor, atau teknisi musik.

6. Kecerdasan Visual-Spasial

            Kecerdasan Visual-Spasial adalah kemampuan untuk melihat dan mengamati dunia visual-spasial secara akurat, dan kemudian bertindak atas persepsi tersebut. Kecerdasan ini melibatkan kesadaran akan warna, garis, bentuk, ruang, ukuran, dan juga hubungan di antara elemen-elemen tersebut. 

Orang dengan kecerdasan Visual-Spasial yang berkembang baik akan mampu untuk menciptakan kembali gambar dari kejadian atau objek yang pernah mereka alami atau lihat, termasuk mengingat kembali emosi yang berhubungan dengan pengalaman mereka.

Orang dengan kecerdasan Visual-Spasial mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Belajar dengan cara melihat dan mengamati; mengenali wajah, objek, bentuk dan warna; mampu mengenali suatu lokasi dan mencari jalan keluar; mengamati dan membentuk gambaran mental, berpikir dengan menggunakan gambar. Menggunakan bantuan gambar untuk membantu proses mengingat; senang belajar dengan grafik, peta, diagram, atau alat bantu visual; suka mencoret-coret, menggambar, melukis, dan membuat patung; suka menyusun dan membangun permainan tiga dimensi; mampu secara mental mengubah bentuk suatu objek; mempunyai kemampuan imajinasi yang baik; mampu melihat sesuatu dengan perspektif yang berbeda; mampu menciptakan representasi visual atau nyata dari suatu informasi; tertarik menerjuni karier sebagai arsitek, desainer, pilot, perancang pakaian, dan karier lain yang banyak menggunakan kemampuan visual.

7. Kecerdasan Kinestetik

            Kecerdasan Kinestetik merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan dalam menggunakan tubuh secara terampil untuk mengungkapkan suatu ide, pemikiran dan perasaan, mampu bekerja dengan baik dalam menangani dan memanipulasi objek. Kecerdasan ini juga meliputi ketrampilan fisik dalam bidang koordinasi, keseimbangan, daya tahan, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan. Kecerdasan ini sangat menonjol pada diri seorang penari, atlet, pematung, pemusik, aktor, mekanik, dokter bedah.

Orang dengan kecerdasan kinestetik yang berkembang baik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Suka memegang, menyentuh, atau bermain dengan apa yang sedang dipelajari; mempunyai koordinasi fisik dan ketepatan waktu yang baik; sangat suka belajar dengan terlibat secara langsung. Ingatannya kuat terhadap apa yang dialami daripada apa yang dikatakan atau dilihat; menyukai pengalaman belajar yang nyata seperti field-trip, membangun model, role-play, permainan, atau olah fisik; menunjukkan kekuatan dalam bekerja yang membutuhkan gerakan otot kecil maupun otot utama; mempunyai kemampuan untuk menyempurnakan gerakan fisik dengan menggunakan penyatuan pikiran dan tubuh; menciptakan pendekatan baru dengan menggunakan keahlian fisik seperti dalam menari, olahraga, atau aktivitas fisik lainnya; menunjukkan keseimbangan, keindahan, ketahanan, dan ketepatan dalam melakukan tugas yang mengandalkan fisik; mengerti dan hidup sesuai standar kesehatan; menunjukkan minat pada karier sebagai atlet, penari, dokter bedah, atau sebagai tukang.

8. Kecerdasan Naturalis

            Kecerdasan Naturalis adalah kemampuan untuk mengenali, membedakan, menggolongkan dan membuat kategori terhadap apa yang dijumpai di alam maupun di lingkungan. Inti dari kecerdasan ini adalah kemampuan manusia untuk mengenali tanaman, hewan dan bagian lain dari alam semesta.

Orang dengan kecerdasan naturalis yang berkembang baik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Menjelajahi lingkungan alam dan lingkungan manusia dengan penuh ketertarikan dan antusias; suka mengamati, mengenali, berinteraksi, atau peduli dengan objek, tanaman atau hewan; mampu menggolongkan objek sesuai dengan karakteristik objek tersebut; mampu mengenali pola di antara spesies atau kelas dari objek; suka menggunakan peralatan seperti mikroskop, binokular, teleskop, dan komputer untuk mempelajari suatu organisme atau sistem; senang mempelajari siklus kehidupan flora atau fauna; ingin mengerti bagaimana sesuatu itu bekerja; mempelajari taksonomi tanaman dan hewan; tertarik untuk berkarier di bidang biologi, ekologi, kimia dan botani; senang memelihara tanaman atau hewan.

Penutup

Kecerdasan bukanlah semata-mata ditentukan oleh faktor keturunan. Dalam keadaan anak normal, kecerdasan itu dapat ditumbuhkembangkan. Tentu, dengan metode pengasuhan yang juga cerdas. Kalau orangtua ingin agar anaknya tumbuh cerdas, maka keinginan itu tidak cukup dengan perintah harus belajar. Atau sebaliknya, dengan berbagai larangan yang konotasinya mengekang kebebasan anak. Kecerdasan sang pengasuh dalam mengasuh anak sangat dibutuhkan dalam memformat kecerdasan anak.

Dalam buku The Learning Revolution, Buckminster Fuller menegaskan :

“Setiap anak terlahir jenius (cerdas), tetapi kita memupuskan kejeniusan ( kecerdasan)  mereka dalam enam tahun pertama “.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Gunawan, Adi W (2003). Born to be a Genius. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
  2. Porter, Bobbi De & Reardon, Mark (2001). Quantum Teaching. Bandung: Penerbit Kaifa
  3. Dryden G; & Jeannette Vos, (2002). Revolusi Cara Belajar. Bandung: Penerbit Kaifa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s