Pengaruh Gaya Asuh pada Perilaku Anak

gaya asuh1Sering kita melihat dalam kehidupan sehari-hari orang tua atau bahkan kita sendiri memarahi anak kita dengan ucapan : “ Bodoh kali kau, begitu saja tidak bisa “, ketika anak kita tidak dapat mengerjakan pekerjaan rumahnya secara mandiri. Atau cercaan dan vonis lain kepada anak kita dengan kata-kata yang bernada tinggi, dengan mimik wajah penuh kemarahan.

       Juga guru di sekolah, kadangkala ketika kesal tanpa disadari guru mengucapkan kata-kata senada dengan tindakan orangtua . “ Memang dasar bodoh kali kau, berulang kali dijelaskan , tak masuk juga ke otakmu. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan “. Atau kata-kata lain yang sifatnya menyudutkan pribadi anak, bahkan menyakitkan hatinya.

       Bila dipikir dalam-dalam, bagaimana mungkin anak akan menjadi manusia dengan kepribadian mulia, jika di masa kecilnya ia dibesarkan dan diperlakukan dengan cara yang tidak mulia ?

 Mendidik Anak Janganlah dengan Emosi

       Murray Straus, seorang sosiolog dari University of New Hampshire melakukan penelitian terhadap 991 orang tua. Menurut penelitiannya, membentak dan mengancam adalah bentuk paling umum dari agresi yang dilakukan orang tua. Dibandingkan tindakan yang lebih ekstrim lagi, seperti mengancam, memaki, dan memanggil dengan kasar dengan panggilan bodoh, malas dan sebagainya, maka membentak memang paling banyak dilakukan. Bukan hanya kepada anak, bayi pun kena bentak. Tetapi biasanya semakin muda usia orang tua, semakin sering pula mereka melakukan ‘tindakan disiplin’ tersebut.

      Menurut Straus, tindakan ini membawa efek psikologis jangka panjang bagi sang anak, walaupun secara hukum belum bisa disebut kekerasan terhadap anak. Tetapi memang dampaknya tidak langsung kelihatan dan biasanya baru kelihatan setelah mereka semakin dewasa. Straus menambahkan bahwa agresi psikologis itu bisa membuat anak menjadi sulit beradaptasi atau bahkan berperilaku buruk, karena berbagai faktor. Misalnya, menjadi kurang percaya diri, atau sebaliknya, menjadi pemberontak.

       Hasil penelitian Dr. Paul D. Hastings dari National Institute of Mental Health, secara jelas menunjukkan bahwa ibu yang menerapkan disiplin dan sistem hukuman yang berlebihan yang tidak berusaha berkomunikasi, memberikan penjelasan, pengertian dan menerapkan peraturan-peraturan yang konsisten, dan yang secara keterlaluan memarahi anak-anak mereka ataupun menunjukkan kekecewaan mereka terhadap si anak cenderung menghalangi perkembangan prasosial si anak.
      Orang tua yang menggunakan hukuman keras sebagai bagian dari disiplin dalam mendidik anak mereka memiliki kemungkinan untuk menyebabkan masalah yang lebih dari sekedar hubungan orangtua-anak yang kurang mesra dan juga dapat mempengaruhi kemampuan anak-anak mereka dalam menunjukkan empati. Di samping itu, anak-anak mengartikan bahwa perilaku keras tersebut sebagai tanda tidak adanya kasih sayang dari orang tua mereka terhadap mereka.

       Kebalikannya, para ibu yang hangat yang menggunakan penjelasan dan tidak mengandalkan hukuman keras dalam mendisiplinkan anak-anak serta tidak marah-marah ataupun mencerca, mereka cenderung menumbuhkan rasa empati dalam diri anak-anak  mereka.

Citra Diri (Self Image)

      Citra diri adalah cara anak kita melihat dirinya sendiri dan berpikir mengenai dirinya sendiri pada waktu sekarang ini. Jika orangtua selalu memberi penilaian dengan penilaian yang negatif seperti bodoh, tolol, dan lain sebagainya. Serta guru di sekolah pun menguatkan vonis orangtuanya, maka anak dikhawatirkan akan menilai dirinya sendiri sebagai anak yang bodoh, tolol, dan sebagainya . Dampak negatifnya anak akan pasif dalam belajar, malu bertanya, takut untuk mencoba dan takut pula untuk mengemukakan pendapatnya, tetapi anak akan garang dalam mencerca dan memaki orang lain.

      Melly Budiman (1986: 6) mengatakan bahwa keluarga yang dilandasi kasih sayang sangat penting bagi anak supaya anak dapat mengembangkan tingkah laku sosial yang baik.  Bila kasih sayang tersebut tidak ada, maka seringkali anak akan mengalami kesulitan dalam hubungan sosial, dan kesulitan ini akan mengakibatkan berbagai macam kelainan tingkah laku sebagai upaya kompensasi dari anak.  Sebenarnya, setiap orang tua itu menyayangi anaknya, akan tetapi manifestasi dari rasa sayang itu berbeda-beda dalam  penerapannya; perbedaan itu akan tampak dalam pola asuh yang diterapkan.

gaya asuh2 Pengaruh Perlakuan terhadap perilaku Anak

Dorothy Law Nolte dalam buku The Learning Revolution menyatakan sebagai berikut :

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.

Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah.

Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri.

Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri.

Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian.

Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah.

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.

Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai.

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri.

Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan.

Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan.

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.

Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupannya.

Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran.

       Sekarang kita selaku orangtua bahkan selaku guru di sekolah tinggal mencocokkan, pola perlakuan mana yang selama ini kita terapkan kepada anak atau anak didik kita, setelah itu selidiki hasil perlakuan kita.

 Yang diinginkan anak-anak kita

      Misalkan suatu pagi seorang Ibu sedang menyiapkan roti bakar untuk sarapan suaminya, tiba-tiba telepon berdering, anaknya menangis, dan roti bakar jadi hangus. Lalu suaminya berkomentar: ‘Kapan kamu akan belajar memanggang roti tanpa menghanguskannya?

      Jika seandainya Ibu tersebut adalah diri Ibu, kira-kira, bagaimana reaksi Ibu?”

Ibu 1 : ”Langsung saya lemparkan roti itu ke mukanya!”

Ibu 2 : ”Saya akan katakan padanya, ‘Bangun dan bakar sendiri rotinya!”

Ibu 3 : ”Saya rasa saya akan menangis.”

      Lalu bagaimana perasaan Ibu terhadap suami Ibu?” Sudah pasti: ”Marah, benci, dan merasa dianiaya.” Lalu , mudahkah bagi Ibu untuk menyiapkan roti bakar lagi pagi itu?”  So pasti,  ”Tidak jawabannya, dan tidak akan pernah.”  Pertanyaan selanjutnya, jika suami Ibu pergi bekerja, akan mudahkah bagi Ibu untuk membereskan rumah dan belanja kebutuhan sehari-hari dengan lapang dada?”  Mungkin Ibu akan berkata : “Tidak. Dada saya akan terasa sesak sekali sepanjang hari.” Dan: ”Saya tidak akan membeli apapun untuk keperluan rumah hari itu.”

      Namun , hal tersebut di atas akan berbeda sekali jika suami Ibu tidak berkata seperti di atas. Katakanlah bahwa roti itu memang hangus. Tetapi suami Ibu mengatakan kepada Ibu, ‘Tampaknya pagi ini kamu lelah ya… telepon berdering, anak kita menangis, dan akibatnya roti hangus”, kira-kira apa reaksi Ibu?”

      Tentu Ibu tak perlu merasa sesak napas, karena suami Ibu berbicara dengan lembut, baik dan penuh pengertian, karena tidak menyalahkan Ibu, melainkan memahami perasaan Ibu serta berbicara tanpa menyakiti perasaan Ibu. Ia berpihak pada Ibu, bukan memusuhi Ibu. Sudah pasti, jika suami Ibu pergi bekerja, akan mudah bagi Ibu untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga dan Ibu akan melaksanakan tugas-tugas Ibu dengan senang hati.

       Sekarang, bagaimana kalau apa yang dilakukan suami kepada Ibu, Ibu juga lakukan kepada anak-anak Ibu?”  Anak-anak yang kita asuh adalah sama seperti diri kita sendiri yang juga punya perasaan dan butuh perhatian, bukan repetan maupun cercaan .”Sekarang Ibu mengerti bahwa apa yang Ibu inginkan dari suami Ibu, itulah yang diinginkan pula oleh anak-anak kita dari kita , yaitu  PENGERTIAN dan EMPATI .”

 Penutup

       Anak itu harapan masa depan. Karenanya, mereka perlu dipersiapkan agar kelak menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, sehat, bermoral dan berguna bagi masyarakat. Untuk itu perlu dipersiapkan sejak dini yaitu sejak dalam kandungan, masa kanak-kanak serta masa remaja  melalui pola pengasuhan dan perlakuan yang baik pula.

      Mendidik anak melibatkan seluruh aspek kepribadian anak; jasmani, intelektual, emosional, keterampilan, norma, dan nilai-nilai. Hakikat mendidik/mengasuh anak meliputi pemberian kasih sayang dan rasa aman, sekaligus disiplin dan contoh yang baik. Karenanya, diperlukan suasana kehidupan keluarga yang stabil dan bahagia.

       Darmanto Jatman dalam bukunya “Terima Kasih Indonesia” yang disusun bersama dengan Adriani S Soemantri, Ia berkata dalam salah satu tulisannya di buku tersebut, pendidikan anak kita laksana sebuah mosaik. Kita hanya merekatkan sepotong, nanti lingkungan yang akan membantu merekatkan yang lainnya pula hingga jadi sebuah mosaik yang indah. Ketika meletakkan potongan-potongan mosaik ini perlu dilakukan secermat dan sehati-hati mungkin, karena begitu banyak unsur yang terkait di dalamnya. Demikian pula, kitalah yang akan sangat menentukan, potongan mosaik yang mana lagikah yang cocok bagi jiwa anak kita agar sempurna ia menjadi sebuah lukisan mosaik yang elok.

       Didiklah anak dengan penuh pengertian dan empati. Karena apapun teorinya, anak-anak kita saat ini adalah produk hasil pendidikan yang ia peroleh, baik pendidikan yang konstruktif dan juga pendidikan yang destruktif.

 

Dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s